IHDN Denpasar melaksanakan orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) atau dalam Hindu disebut dengan Mahasisya Upanayana

IHDN Denpasar melaksanakan orientasi studi dan pengenalan kampus (OSPEK) atau dalam Hindu disebut dengan Mahasisya Upanayana

Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar melakukan orientasi studi dan pengenalan kampus (Ospek) atau dalam Hindu disebut dengan Mahasisya Upanayana terhadap calon mahasiswa baru di Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Center), Denpasar pada 25-27 Agustus 2018. Selain mengenalkan lebih jauh tentang lembaga, IHDN Denpasar juga mengenalkan profil kampus sebagai ‘Kampus Kerukunan’ pertama di Indonesia.

Pembukaan Mahasisya Upanayana dibuka Rektor IHDN Denpasar, Prof Dr Drs I Gusti Ngurah Sudiana MSi, Sabtu (25/8). Sebanyak 626 orang peserta Mahasisya Upanayana yang berhasil diterima tahun ini. Jumlah tersebut cukup meningkat bila dibanding tahun-tahun sebelumnya. Bahkan, tahun ini IHDN Denpasar terpaksa menolak calon mahasiswa baru lantaran kuota penuh.

“Tahun ini total keseluruhan mahasiswa yang kami terima 824 orang. S1 626 orang, sisanya S2 dan S3. IHDN Denpasar tahun ini betul-betul menyaring mahasiswa. Kemarin yang tidak lulus bahkan sampai 425 orang,” ujar Prof Sudiana usai pembukaan Mahasisya Upanayana, Sabtu kemarin. Tahun ini pelaksanaan Mahasisya Upanayana IHDN Denpasar terlihat berbeda.

Biasanya kegiatan Ospek tersebut dilakukan di kampus IHDN Denpasar, baik itu kampus Denpasar maupun Bangli. Namun, kali ini digelar di luar kampus, yakni Gedung Ksirarnawa, Taman Budaya (Art Center), Denpasar agar mahasiswa baru tidak saja mengenal kampus, melainkan juga lingkungan sosial.

“Orientasi tidak harus di kampus saja. Mahasiswa nantinya juga tidak murni akan menjadi orang kampus, melainkan harus mengenal masyarakat dan lingkungan sosial. Ospek di luar kampus menurut kami juga penting, sehingga mahasiswa tidak kuper (kurang pergaulan, red) dan tidak menjadi orang yang eksklusif,” ungkap akademisi yang juga menjabat Ketua PHDI Provinsi Bali ini.

Selain mengenalkan lembaga kepada mahasiswa baru, dalam Mahasisya Upanayana ini Prof Sudiana juga mengenalkan ‘wajah baru’ IHDN Denpasar sebagai Kampus Kerukunan. Deklarasi Kampus Kerukunan ini secara resmi dilakukan pada 21 April 2018 lalu disaksikan oleh 16 perwakilan PTN/PTS di Indonesia, dan dihadiri Ketua Asosiasi FKUB dan Deputi Kerukunan Kementerian Hukum dan HAM RI. Menurut Prof Sudiana, kerukunan sangat penting di tengah perbedaan di Indonesia. Apalagi mengingat tahun-tahun politik yang rawan akan ‘permainan’ isu SARA.

Menurut akademisi asal Banjar Santi, Desa Selat, Karangasem ini, perguruan tinggi memiliki peranan penting dalam menghasilkan generasi yang berpendidikan dan memberi contoh toleransi beragama. “Dengan ikon Kampus Kerukunan ini setiap mahasiswa dan civitas akademika ini sama-sama berperan menjaga kerukunan di manapun dia berada. Maka mahasiswa secara tidak langsung punya andil menjaga kerukunan dalam bernegara. Makanya tema Mahasisya Upanayana tahun ini adalah Vidya Vinaya Dadati, yang artinya Ilmu Pengetahuan memberikan kebijaksanaan. Kebijaksanaan berpikir yang didapat dari ilmu pengetahuan akan mampu menciptakan kerukunan,” jelasnya.

Sementara itu, dalam pembukaan Mahasisya Upanayana kemarin, juga dilakukan penandatanganan kerjasama dengan perguruan tinggi lintas agama, yakni Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember, yang nantinya akan bersama melakukan pengabdian di seluruh Nusantara.

Sumber :

www.metrobali.com

www.nusabali.com

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *