IHDN Denpasar Fasilitasi Mahasiswa Tunanetra dengan e-Pub

IHDN Denpasar Fasilitasi Mahasiswa Tunanetra dengan e-Pub

Jakarta (Kemenag) — Institut Hindu Dharma Negeri (IHDN) Denpasar Bali termasuk salah satu kampus Perguruan Tinggi Keagamaan Negeri (PTKN) yang memberikan akses belajar bagi kalangan tunanetra. Saat ini tercatat ada tujuh mahasiswa tunanetra yang masih aktif belajar di IHDN.

“Kami di IHDN Denpasar tidak pernah membedakan yang disabilitas maupun yang normal untuk belajar di kampus. Kami terbuka bagi semua,” kata Rektor IHDN, I Gusti Ngurah Sudiana, disela-sela acara Rakernas Kemenag RI tahun 2018, Selasa (30/01).

Untuk memudahkan proses belajar mahasiswa tunatera, IHDN menyiapkan perpustakaan digital dengan format e-Pub. Menurut Sudiana, e-Pub adalah buku yang discan dan diolah oleh yayasan mitra netra menjadi bentuk e-Pub yang bisa dibaca dengan aplikasi scan reader yang diinstall di laptop atau smartphone.

“Scan reader akan membacakannya dalam kalimat-kalimat lengkap sehingga para tunanetra bisa mengetahui isi buku dengan menggunakan indra pendengaran,” ujarnya.

“Katalog yang dimiliki oleh perpustakaan online ‘Pustaka Mitra Netra’ saat ini berjumlah kurang lebih 600an buku,” sambungnya.

Sudiana menilai, keberadaan e-Pub ini sangat membantu penyandang tunanetra di IHDN dan Bali untuk mendapatkan haknya memperoleh dan mengakses informasi. “Bagi mahasiswa tunanetra, informasi digital ini tentu sangat membantu untuk menyelesaikan proses menempuh pendidikan tingginya di IHDN Denpasar,” tuturnya.

Diakui Sudiana, perkembangan teknologi ikut memudahkan proses pembelajaran bagi mahasiswa tunanetra. IHDN Denpasar bahkan kini menjalin kerjasama dengan Persatuan Tunanetra Indonesia (Pertuni) untuk mengembangkan e-Pub sebagai alat baca elektronik khusus untuk anak tunanetra.

“Kerjasama IHDN Denpasar dengan Pertuni secara formal memang baru, tapi secara informalnya sebenarnya sudah berjalan dari tahun 1994,” tambah Sudiana.

Sejak 1995, saat masih berstatus Akademi Pendidikan Guru Agama Hindu, IHDN terus menerima mahasiswa tunanetra. Setiap tahun, rata-rata ada lima sampai enam mahasiswa tunanetra yang diterima di IHDN. Mereka memilih program studi (prodi) yang berbeda-beda. Ada yang memilih Prodi Pendidikan, Penerangan, Hukum, bahkan ada juga yang memilih Fakultas Brahma Widya dengan jurusan Filsafat, Teologi, serta Yoga dan Kesehatan.

“Kita bisa lihat mahasiswa tunanetra juga bisa sukses. Banyak sudah lulusan IHDN Denpasar yang menjadi guru di SLB,” kata Sudiana.

Sebelumnya, ketua Pertuni Arya Indrawati menyampaikan bahwa terpilihnya IHDN Denpasar sebagai Lembaga pendidikan untuk penyandang disabilitas khusunya tunanetra karena, IHDN Denpasar sudah sejak lama membuka diri terhadap penyandang tunanetra. Akan hal ini, penyandang tunanetra sangat terbantu jika ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.

“Pertuni siap membantu IHDN Denpasar dalam mengadakan alat-alat teknologi yang bisa membantu Mahasiswa dalam belajar di IHDN Denpasar,” kata Indrawati.

Sumber Kemenag